Saturday, July 25, 2015

Menggunakan Gmaps Dan Waze Secara Bijak

Dapat berita dari okezone :


TASIKMALAYA - Sebuah mobil jenis Avanza silver milik pemudik asal Jakarta terjun ke jurang di kawasan Kampung Tagog Pamoyanan, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Peristiwa itu diduga diakibatkan pengendara mengikuti arah yang ditunjukkan aplikasi GPS dalam telefon selulernya.
Menurut warga sekitar, Jajang (34), kejadian berlangsung pada Jumat (24/7/2015) dini hari sekira pukul 1.00 WIB. Warga mengetahui insiden itu setelah korban berteriak minta tolong.
Warga yang mengetahui hal itu langsung mengevakuasi penumpang mobil tersebut. "Tidak ada korban dalam kejadian itu. Tiga penumpang mengalami luka dan dilarikan ke Puskesmas terdekat. Sementara penumpang lainnya hanya syok saja," ujarnya.
Sementara warga berkerumun di lokasi kejadian untuk menyaksikan lebih dekat. Selain itu, warga juga siap membatu mengevakuasi kendaraan yang terjatuh di jurang tersebut.
Informasi yang dihimpun, pemudik tersebut nyasar saat hendak pulang ke Jakarta. Dengan mengikuti arah dan jalur jalan yang ada di peta GPS yang tersedia di telefon selulernya, pengendara terus melaju dan tidak menyangka bahwa jalan di kawasan tersebut banyak jurang.
Jalur Selatan di wilayah Tasikmalaya sepanjang Rajapolah-Pamoyanan-Jamanis-Ciawi-Gentong memang minim penerangan jalan umum (PJU). Hal ini dinilai menyusahkan pengendara, apalagi pemudik asal luar Tasikmalaya tidak mengenal medan yang dilaluinya.

sumber: http://news.okezone.com/read/2015/07/24/525/1184880/lihat-peta-di-gps-pemudik-terjun-ke-jurang

Penggunaan gmaps dan waze kemarin memang sangat membantu saya dalam perjalanan mudik dan balik tahun 2015 ini. Berkat Gmaps dan waze perjalanan lancar jaya tak kena macet berjam-jam. Tetapi sempat juga disesatkan 2x oleh gmaps, belajar dari penyesatan ini memang tidak boleh percaya 100 % terhadap gmaps dan waze apalagi di malam gulita. Perjalanan malam justru harus menghindari jalur alternatif yang sepi karena masalah keamanan. Pada tahun 2014 lalu bahkan jalur cijapati yang mulus lus pun di tutup rapat oleh pihak keamanan.
Pada perjalanan mudik 2015 ini saya ingin menghindari kepadatan jalur banjar-majenang. Pilihannya adalah melalui banjar-langensari-sidareja. Berikut rute rekomendasi gmaps :


Saya mengikuti rute tapi tidak mode navigasi. Start dari banjar jam 5 sore, jalan yg dilalui adalah jalan desa yg sempit (lebar 3 m). Sampai akhirnya jam 5.35 istirahat di perempatan kantor desa Lakbok yang ramai. Rencananya mau istirahat dan buka puasa dulu. Ngobrol dengan penduduk setempat ternyata rutenya salah.. tidak sampai sidareja. Apa boleh buat saya harus percaya pada mereka, rencana dan istirahat pun dibatalkan. Buru-buru balik kanan kembali menuju banjar, karena hari makin gelap dan beresiko tersesat. Akhirnya jam 18.10 bisa berbuka puasa di sebuah warung di kota banjar. Dan akhirnya perjalanan diteruskan lewat jalan nasional 3 banjar-majenang.
Pada perjalanan balik saya lewat jalur alternatif maos-sidareja, oleh gmaps(dengan mode navigasi) di sesatkan ke jalan pedesaan yang sepi dan akhirnya rusak serta berbahaya, karena jalannya naik turun bukit yang curam dengan kondisi jalan rusak.

Dari dua kejadian diatas saya belajar tentang gmaps yaitu :
1. Gunakan rute gmaps dengan navigasi (klik "start navigation"), gunanya agar gmaps dapat me-route ulang sesuai dengan keinginan kita atau kondisi lapangan. 
2. Jangan percaya dan mau mengikuti gmaps 100%. Contohnya saat perjalanan dari bedungan menganti menuju langensari dengan menyusuri saluran irigasi citanduy. Jalannya aspal mulus dan lebar. Tapi berkali2 navigasi gmaps meminta kita menyebrang saluran irigasi ini (lewat jembatan sih) tapi selanjutnya masuk jalan desa yang rusak dan kecil serta sepi. Saya ngeyel untuk tetap pada jalan aspal yang mulus dan lebar, gmaps pun mengubah rutenya, sesuai dengan jalan aspal ini. Ini lah rute sidareja-langensari yang benar :


3. Selalu konfirmasi dulu dengan penduduk setempat, tanyakan apakah jalannya bagus? apakah tidak berbahaya? dan sebagainya. Tentunya jangan blusukan pada malam hari.

Semoga tips ini membantu anda.




Saturday, July 11, 2015

Mengenali Busi Dan Peruntukannya

Pertama kenaili ukurannya yaitu ukuran thread dan hex. Lingkar thread yaitu lingkar ulirnya dan thread reach (panjang ulirnya) serta hex yaitu ukuran kunci businya. Salah beli ukuran thread berarti nggak kepakae businya. Jangan langsung percaya dengan stiker peruntukan di kemasan busi. Bisa jadi salah tempel stiker. Misalnya dipasang stiker "Yamaha F1" padahal isinya busi buat vespa, kan bubaran jadinya.






Ukuran thread dan hex ada didalam tipe/kode businya.

Kedua kenali tipe businya. Misalnya NGK BP7HS

B --> lingkat thread 14 mm. Hex 20.8 mm. 
P --> Projected Centre Insulator
7  --> tingkat panasnya, makin tinggi makin tahan panas (busi dingin)
H -->  Panjang thread 12.7 mm
S --> Standard super copper core centre electrode


Misalnya Denso W16EX-U

W --> lingkat thread 14 mm. Hex 20.6 mm.
16 --> tingkat panasnya, makin tinggi makin tahan panas (busi dingin)
E  -->  Panjang thread 19 atau 20 mm
X -->  Extra Projected Insulator Nose
U --> U-grooved ground electrode




Apa bedanya BP5ES dan BPR5ES serta BP5EY?

BPR5ES berarti pakai resistor

Dengan resistor maka noise ke audio, cpu dsb bisa dikurangi tanpa perubahan performa mesin.



BP5EY berarti electrodanya pakai coakan V-groove



Apa bedanya W16EX-U dengan  W20EXR-U?

W20EXR-U tingkat suhunya lebh tinggi, lebih tahan panas. Dan memakai resistor, noise lebih rendah.